4.04.2013

Telah di temukan seorang mayat di tengah2 gurun pasir. Di samping mayat tersebut terletak sebuah bungkusan yang terbuat dari plastik. Polisi dan tim forensik sementara ini masi menduga2, penyebab meninggalnya orang tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah bungkusan apa yang terletak di samping mayat tersebut dan kenapa dia bisa meninggal dunia seorang diri di tengah-tengah gurun pasir ?

Apakah bungkusan itu berisi uang, emas atau barang berharga lainnya, tapi karena di tengah gurun gk ada yang jualan atau makanan makanya dia meninggal ?. Atau mungkin bungkusan tersebut berisi bom atau bahan peledak ? tapi kenapa bungkusannya masih utuh ? Kenapa juga dia berada di tengah gurun pasir ?

Ternyata setelah proses investigasi selesai, di ketahui bahwa bungkusan yang berada di samping orang tersebut adalah sebuah parachute yang tidak terbuka, nah apa maksudnya yaaa . . ? Oh, ternyata oh ternyata lagi, dia adalah seorang penerjun, yang saat itu akan melakukan manuver di angkasa, tetapi sayang sungguh di sayang parachute yang ia gunakan tidak terbuka saat terjun dari pesawat.

Dada jadi sempit tatkala fikiran tidak dibuka. Dan fikiran jadi tidak berguna tatkala ia tidak dibuka. Lalu hiduplah ia dalam “kandang pemikiran”, “penjara pemikiran” yang telah disempadankan oleh musuh-musuh kita. Kandang inilah, yang dinamakan ghazwul fikri.

Seperti parachute, bukalah cepat pikiran mu, agar kau tidak jatuh terjerembab menyembah bumi, lalu yang timbul tidak lain melainkan kesakitan, kepedihan, dan keperitan. Sedang dengan parachute, kau bisa “menari” indah di langit nan tinggi, menikmati keluasan dan keindahan langit Ilahi. Untuk kemudian mendarat selamat di permukaan bumi. Dan menyuburkan ia dengan pandangan-pandangan indah di atas sana. Dan menyedarkan penghuninya akan keindahan hidup “di atas”, apa lagi nenek kita pun asalnya dari “sana.”

Bukalah parachute mu, dan moga selamat “pendaratan” mu. Bukalah fikiran mu, dan moga membumi segala ideamu.










Referensi di blog Farhan al Banna dan materi Communication Training

0 komentar: